Tampilkan postingan dengan label udang windu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label udang windu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Mei 2013

Budidaya Udang Windu Intensif



Udang Windu



Perkembangan budidaya udang windu dihadapkan pada suatu kondisi yang kurang menggembirakan. Rangkaian kegagalan yang diakibatkan oleh berbagai faktor memerlukan solusi yang komprehensif; dengan melibatkan multi-disiplin ilmu dan keahlian untuk bekerja secara sinergis.  Di samping itu, dalam era perdagangan global dewasa ini, proses produksi perikanan budidaya –dalam hal ini udang tambak– mesti memenuhi kriteria food safety yang telah disepakati oleh masyarakat dunia; baik menyangkut hazard analysis (HACCP), Best Management Practices (BMP), hingga persyaratan ramah lingkungan (environmental controls).



Walaupun udang windu merupakan komoditas unggulan bagi sektor  perikanan budidaya, namun  harus diakui bahwa kemajuan  teknologi tambak udang di Indonesia hampir selalu tertinggal,  berbagai permasalahan dan kendala yang terus merebak lebih cepat.  Akibatnya budidaya udang windu menjadi terpuruk dan tidak mudah untuk bangkit kembali.  Semakin besarnya beban pencemaran di wilayah pantai, merebaknya berbagai jenis penyakit hingga faktor sosial-ekonomi yang tidak kondusif, semakin menempatkan usaha budidaya udang pada posisi yang kian labil.  Tidak kurang dari 80% lahan tambak udang yang pada era tahun 80-an sangat produktif, kini menjadi lahan kosong, atau dialihkan menjadi tambak garam tradisional.

Budidaya Udang Windu Intensif Bagian 2

VII. MANAJEMEN KESEHATAN UDANG
">
Udang yang sehat dicirikan oleh fungsi fisiologis yang normal, dan secara fisik dapat terlihat dari  pola nafsu makan, pertumbuhan, kebersihan dan kelengkapan organ  dan jaringan tubuh.  Udang akan tetap dalam kondisi sehat selama lingkungan masih mampu memberikan kondisi yang optimal dan mampu mentolerir beban polusi internal sebagai hasil degradasi input produksi (kotoran udang, alga yang mati dan sisa pakan). 

Penyakit pada umumnya mulai terjadi pada bulan kedua pemeliharaan, terutama pada tambak yang sejak awal mengalami kesulitan menumbuhkan fitoplankton, sehingga klekap tumbuh yang kemudian mengalami kematian. Kemampuan mengendalikan faktor penyebab stress dan antisipasi yang tepat terhadap potensi serta gejala sakit akan menentukan kualitas dan kuantitas udang pada akhir masa pemeliharaan hingga  panen.  Hampir semua kunci manajemen kesehatan adalah pencegahan, namun tidak menutup kemunginan dilakukannya pengobatan asal tidak menggunakan jenis obat yang termasuk kategori terlarang untuk produk perikanan, seperti kloramfenikol dan nitrofuran.