| Udang Windu |
Perkembangan budidaya
udang windu dihadapkan pada suatu kondisi yang kurang menggembirakan. Rangkaian kegagalan yang
diakibatkan oleh berbagai faktor memerlukan solusi yang komprehensif; dengan
melibatkan multi-disiplin ilmu dan keahlian untuk bekerja secara sinergis. Di samping itu, dalam era perdagangan
global dewasa ini, proses produksi perikanan budidaya –dalam hal ini udang
tambak– mesti memenuhi kriteria food safety yang telah disepakati oleh
masyarakat dunia; baik menyangkut hazard analysis (HACCP), Best Management
Practices (BMP), hingga persyaratan ramah lingkungan (environmental controls).
Walaupun udang windu
merupakan komoditas unggulan bagi sektor
perikanan budidaya, namun harus
diakui bahwa kemajuan teknologi tambak
udang di Indonesia hampir selalu tertinggal,
berbagai permasalahan dan kendala yang terus merebak lebih cepat. Akibatnya budidaya udang windu menjadi
terpuruk dan tidak mudah untuk bangkit kembali.
Semakin besarnya beban pencemaran di wilayah pantai, merebaknya berbagai
jenis penyakit hingga faktor sosial-ekonomi yang tidak kondusif, semakin
menempatkan usaha budidaya udang pada posisi yang kian labil. Tidak kurang dari 80% lahan tambak udang yang
pada era tahun 80-an sangat produktif, kini menjadi lahan kosong, atau
dialihkan menjadi tambak garam tradisional.