Sabtu, 23 Maret 2013

PROPOSAL BUDIDAYA ITIK PETELUR GABUNGAN KELOMPOK TANI PETERNAK ITIK


I.              PENDAHULUAN

Pengembangan peternakan diarahkan untuk mewujudkan kondisi peternakan yang maju, efisien dan tangguh yang dicirikan oleh kemampuannya menyesuaikan pola dan struktur produksi dengan permintaan pasar serta kemampuannya terhadap pembangunan wilayah, kesempatan kerja, pendapatan, perbaikan taraf hidup, perbaikan lingkungan hidup serta berperan dalam pertumbuhan ekonomi.

Perkembangan usaha peternakan unggas di Indonesia relatif lebih maju dibandingkan usaha ternak yang lain. Hal ini tercermin dari kontribusinya yang cukup luas dalam memperluas lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan terutama sekali dalam pemenuhan kebutuhan makanan bernilai gizi tinggi. Salah satu usaha perunggasan yang cukup
berkembang di Indonesia adalah usaha ternak itik. Meskipun tidak sepopuler ternak ayam, itik mempunyai potensi yang cukup besar sebagai penghasil telur dan daging. Jika dibandingkan dengan ternak unggas yang lain, ternak itik mempunyai kelebihan diantaranya adalah memiliki daya tahan terhadap penyakit. Oleh karena itu usaha ternak itik memiliki resiko yang relatif lebih kecil, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan.

Itik merupakan salah satu aset nasional dan sekaligus komoditas yang bisa diandalkan sebagai sumber gizi dan sumber pendapatan masyarakat. Beberapa daerah di pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Barat yaitu Pemalang, Tegal, Brebes, Indramayu, Subang, Karawang serta daerah dataran tinggi yaitu Magelang memiliki potensi peternakan itik. Dengan potensi ini diharapkan usaha ternak itik tidak saja mampu menjadi usaha sampingan, namun juga sebagai penghasil pendapatan tambahan bagi keluarga.

Atas dasar pemikiran tersebut, maka dibentuklah Gabungan Kelompok Tani Peternak Itik (Gapoktan) BAROKAH MANDIRI, dengan tujuan:

1.    Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
2.    Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak  itik.
3.    Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
4.    Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan kelompok.
5.    Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.


II.       SEJARAH SINGKAT

Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bahasaJawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik).

Ternak itik disebut juga sebagai unggas air, karena sebagian kehidupannya dilakukan di tempat yang berair. Hal ini ditunjukkan dari struktur fisik seperti selaput jari dan paruh yang lebar dan panjang. Selain bentuk fisik dapat juga dilihat bahwa keberadaannya di muka bumi ini, dimana itik kebanyakan populasinya berada di daerah dataran rendah, yang banyak dijumpai di rawa-rawa, persawahan, muara sungai. Daerah-daerah seperti ini dimanfaatkan oleh itik menjadi tempat bermain dan mencari makan.

Sebelum program intensifikasi pertanian menjadi program nasional, pemeliharaan itik secara tradisional atau dengan digembala memang sangat menunjang konsep pengendalian hama pertanian secara terpadu. Itik umumnya mencari makan di permukaan sawah dan sekitar batang/rumpun pada batang padi. Namun sejak penggunaan obat-obatan pembasmi hama pertanian makin intensif dan adakalanya dosisnya berlebihan, kasus keracunan itik sering menimbulkan konflik sosial. Pemeliharaan itik secara tradisional makin mengandung resiko besar.

Melihat gambaran ini, mengubah kebiasaan cara pemeliharaan dari cara tradisional ke arah pemeliharaan intensif memang perlu, sebab bagaimanapun juga mempertahankan pemeliharaan tradisional dimasa mendatang tidak bisa diharapkan. Hal ini disebabkan pertama, makanan itik disawah atau dihabitatnya makin langka akibat penggunaan obat-obatan pembasmi hama; kedua, tingkat produktifitas itik yang dipelihara secara tradisional makin kurang nilai ekonominya, hanya berkisar antara 10-41% atau rata-rata 22,5% (lebih kurang 80 butir telur setahun). Hal ini menuntut para ilmiawan untuk memperkenalkan metode baru dalam mengelola ternak itik.

Balai Penelitian Ternak (BPT) Ciawi Bogor memperkenalkan alternatif pemeliharaan ternak itik secara terkurung. Ternyata dengan percobaan-percobaan yang telah dilakukan, ternak itik dapat berkembang dan berproduksi sama bahkan dapat melebihi dari hasil pemeliharaan berpindah-pindah (tradisional). Tentu saja tehnik pemeliharaan secara terkurung menuntut berbagai disiplin iilmu dan teknologi yang perlu diterapkan oleh peternak. Namun sebenarnya tuntutan tersebut tidaklah merugikan peternak, malahan akan memberikan hasil yang baik. Melaksanakan “Sapta Peternakan” peternak akan dapat memperoleh hasil yang optimal. Sapta Peternakan itu adalah :



1. Tempat bibit

2. Tempat makanan (pakan)

3. Tempat perkandangan

4. Tempat kontrol penyakit

5. Tempat pasca panen

6. Tempat pemasaran

7. Tempat pengelolaan



III.           SENTRA PETERNAKAN

Secara internasional ternak itik terpusat di negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang mempunyai musim tropis dan subtropis). Sedangkan di Indonesia ternak itik terpusatkan di daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes, Mojosari, Indramayu, Subang dan Karawang), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai) dan Bali serta Lombok.


IV.          JENIS

Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
1)      Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA;
2)      Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
3).     Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood. Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya.
Adapun itik yang akan dikembangkan oleh Gapoktan Barokah Mandiri adalah itik Petelur jenis Itik Alabio, Itik Mojosari.


V.           PERSYARATAN LOKASI

Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.


VI.          PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Sebelum memulai usaha, Gapoktan Barokah Mandiri menyiapkan diri, terutama dalam hal pemahaman tentang pancausaha beternak yaitu (1). Perkandangan; (2). Bibit Unggul; (3). Pakan Ternak; (4). Tata Laksana dan (5). Pemasaran Hasil Ternak.

6.1.        Penyiapan Sarana dan Peralatan

Untuk memaksimalkan hasil dalam budidaya Itik, Gapoktan Barokah Mandiri memahami perlunya persiapan persyaratan teknis budidaya itik, antara lain;

1)      Persyaratan temperatur kandang ± 39 derajat C.
2)      Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%
3)      Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang
4)      Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:
a.   kandang untuk anak itik (DOD) pada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD
b.   kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok
c.   kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).
5)      Kondisi kandang dan perlengkapannya tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa tempat makan, tempat minum dan mungkin perlengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam managemen dapat diperoleh dari bahan plastic pabrikan.

6.2. Pembibitan

Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.

1) Pemilihan bibit dan calon induk
Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik
adalah sebagai berikut :
a.    membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya
b.    memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam atau mesin tetas
c.    membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat. Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.

Untuk itik jenis pedaging atau petelur dan pejantan bibit, harus mempunyai sifat-sifat :
a)    Pertumbuhan badannya cepat tetapi besar badan seragam, tidak mempunyai cacat tubuh. Berat itik pejantan muda pada umur 20 minggu adalah 1,6 kg, pada umur 40 minggu adalah 1,8 kg. Berat itik betina muda pada umur 20 minggu adalah 1,4 kg, pada umur 40 minggu beratnya 1,6 kg.
b)   Pertumbuhan bulunya cepat dan warna bulu seragam. Bulu sudah harus lengkap pada umur 14 hari.
c)    Cepat mencapai dewasa kelamin atau umur mulai bertelur adalah 5 –6 bulan.
d)   Mempunyai daya hidup yang tinggi, hal ini dapat diukur dari angka kematian yang rendah. Angka kematian pada priode pemeliharaan anak (d.o.d) s/d mencapai umur mulai bertelur adalah sebesar 3%, dari awal bertelur s/d diafkir adalah sebesar 2%.
e)    Telur yang diperoduksi sebesar 200–300 butir atau lebih pertahun sampai diafkir. Ternak itik sebaiknya diafkir setelah umurnya 1,5 tahun.
f)     Kemampuan mengola pakan yang sering disebut angka konversi pakan harus kecil (nilainya 2 – 2,5).

Kg. Pakan
Konversi pakan =
              Kg. Produksi telur

Artinya untuk menghasilkan 1 kg telur dibutuhkan pakan sebanyak 2,5 kg.

2) Perawatan bibit dan calon induk
a.   Perawatan Bibit
Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.
b.   Perawatan calon Induk
Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina.
3) Reproduksi dan Perkawinan
Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan system perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).

6.3.      Pemeliharaan

1)   Sanitasi dan Tindakan Preventif
Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit.
2)  Pengontrol Penyakit
Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
3) Pemberian Pakan
Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0–8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:
a.      umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)
b.      umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai
c.      umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.
d.      umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).
Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga, yaitu :
a.      umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
b.      umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad libitum (terus menerus)
c.      umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.

4)   Nutrisi Pakan Itik Petelur

Pedoman nutrisi pakan itik yang baku di Indonesia sampai sekarang memang belum ada, akan tetapi para peternak sendiri yang meramunya secara mencoba-coba. Para peternak biasanya menyusun pakan ternak itiknya berpedoman kepada formula dari luar negri, kemudian disesuaikan dengan bahan pakan yang ada di Indonesia.
Syarat pakan yang baik untuk ternak itik adalah sebagai berikut :
1. Ransum disusun dari bahan-bahan makanan yang mengandung gizi lengkap seperti protein, lemak, serat kasar, vitamin dan mineral. Susunlah dari beberapa jenis bahan makanan, semakin banyak ragamnya semakin baik, terutama dari sumber protein hewani.
2. Setiap bahan makanan digiling halus, kemudian dipadatkan dalam bentuk pil tau butiran, agar jangan banyak tercecer waktu itik memakannya. Bahan yang biasa digunakan untuk pakan itik adalah; dedak, jagung, bungkil kedele, bungkil kelapa, lamtoro, ikan, bekicot, remis, sisa dapur, tepung tulang, kepala/kulit udang dan lain-lain.
3. Jumlah pemberian dan kadar protein di sesuaikan dengan umur pertumbuhan dan produksi telur.
4. Tempat makanan harus dicegah jangan sampai tercemar jamur ataupun bakteri. Jadi harus selalu dalam keadaan bersih dan kering.
5. Sesuaikan jumlah tempat makanan dan minuman dengan jumlah itik, agar jangan saling berebutan pada waktu makan.

Formula ransum itik yang memenuhi syarat dapat dilihat dari Tabel 1.  Dan untuk jumlah kebutuhan ransum dapat dilihat di Tabel 2.
Tabel 1. Formula Ransum Itik yang Memenuhi Syarat

Bahan Baku
Awal
( 0 – 4 mgg )
Dara
( 5 - 22 mgg )
Petelur
( 23 mgg dst)
Jagung giling
Dedak halus
Ubi kayu
Tepung ikan
Bungkil kelapa
Bungkil kedele
25 %
40 %
5 %
20 %
5 %
5 %
20 %
50 %
5 %
15 %
5 %
5 %
15 %
60 %
5 %
10 %
5 %
5 %
J u m l a h
Kadar protein Ransum
100 %
20 – 22 %
100 %
17 – 19 %
100 %
15 – 17 %

Tabel 2. Jumlah Kebutuhan Ransum (Pakan) per Ekor per Hari
Umur (minggu)
Jumlah (gr)
Umur (minggu)
Jumah (gr)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
15
30
40
60
65
70
70
72
74
74
75
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
76
76
70
70
80
80
95
90
90
100
110


5)   Pemeliharaan Kandang
Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada. Sama halnya seperti ternak ayam, maka ternak itik juga memerlukan kandang terutama pada malam hari. Oleh karena itu kandang itik harus memenuhi syarat- syarat sebagai berikut :

1.    Mempunyai luas yang cukup untuk jumlah itik yang di pelihara.
2.    Terpisah dari tempat pemukiman/rumah
3.    Mempunyai ventilasi udara yang cukup.
4.    Cukup masuk sinar matahari, kandang sebaiknya menghadap ke timur.
5.    Mudah dibersihkan, lantai kandang harus lebih tinggi dari tanah sekelilingnya dan harus padat lantainya. Tinggi kandangnya harus cukup bagi peternak untuk bekerja didalamnya.
6.    Di dalam kandang tersedia alat perlengkapan pokok (tempat makan, tempat minum, alat pemanas buatan, tempat bertelur) bagi kepentingan hidup itik yang bersangkutan.
7.    Terletak di daerah yang tenang, aman dan mempunyai sumber air yang cukup dan bersih.
8.    Di sekeliling kandang dibuat parit pembuang air dan jarak antar kandang cukup jauh, minimum 1 x lebar kandang.

VII. HAMA DAN PENYAKIT

Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:
1)   penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa
2) penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat.

Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:
1)   Penyakit Duck Cholera
Penyebab: bakteri Pasteurela avicida. Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan. Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.
2)   Penyakit Salmonellosis
Penyebab: bakteri typhimurium.Gejala: pernafasan sesak, mencret.

Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.


VIII.       PANEN

8.1. Hasil Utama
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik

8.2. Hasil Tambahan
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga

IX.          PASCAPANEN

Kegiatan pascapanen yang biasa dilakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak dilakukan pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk. Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:

a)   Pengawetan dengan air hangat
Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.
b)   Pengawetan telur dengan daun jambu biji
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
c)   Pengawetan telur dengan minyak kelapa
Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak berubah.
d)   Pengawetan telur dengan natrium silikat. Bahan pengawetan natrium silikat merupakan cairan kental, tidak berwarna, jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama satu bulan.
e)   Pengawetan telur dengan garam dapur. Garam direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25-40% selama 3 minggu.



X.           MODAL DAN ANALISIS EKONOMI

Untuk Usaha Budidaya Itik Gapoktan Barokah Mandiri, kami harapkan mendapat dukungan modal kerja dan modal investasi atau pinjaman modal dari Perbankkan sebesar 130.000.000,- (Seratu tiga puluh juta rupiah) untuk 3 Kelompok Tani, satu Kelompok Tani terdiri dari 5 Orang, satu orang ketua, satu orang sekretaris, satu orang bendahara dan dua orang anggota yang akan memelihara ternak itik petelur sebanyak 12 paket perkelompok atau 6000 ekor perkelompok dengan analisa usaha sebagai berikut:
10.1.     Analisis Usaha Budidaya

Prasyaratan kredit yang dikehendaki:
- Bunga (menurun) 12 % /tahun
- Masa tanggung angsuran 1 tahun
- Lama kredit 3 tahun
Perkiraan analisis usaha budidaya itik, sebagai berikut:.
1)    Permodalan
a. Modal kerja
1
Permodalan
Rupiah

A.   Modal Kerja


Anak itik siap telur um 6 bl 36 paketx500 ek x Rp 6.000
108.000.000,-

Biaya kelancaran usaha dan lain-lain
4.000.000,-

B.   Modal Investasi


Kebutuhan kandang 36 paket x Rp 500.000,-
18.000.000,-

Jumlah kebutuhan modal
130.000.000,-



2
Biaya-biaya


A.   Biaya kelancaran


Provisi dan lain-lain
4.000.000,-




B.   Biaya Tetap


Biaya pengambalian kredit:


Ø  Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun I
58.933.335,-

Ø  Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun II
53,733.335,-

Ø  Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun III
48,533,330,-




Biaya penyusutan kandang:


Ø  biaya penyusutan kandang tahun I
3.600.000,-

Ø  biaya penyusutan kandang tahun II
3.600.000,-

Ø  biaya penyusutan kandang tahun III
3.600.000,-




C.   Biaya Tidak Tetap


Biaya pembayaran ransum:


Ø  biaya ransum tahun I
245.700.000,-

Ø  biaya ransum tahun II
453.600.000,-

Ø  biaya ransum tahun III
453.600.000,-




Biaya pembayaran itik siap produksi:


Ø  pembayaran tahun I
108.000.000,-

Ø  pembayaran tahun II -
-

Ø  pembayaran tahun III -
-




Biaya pembayaran obat-obatan:


Ø  biaya pembayaran obat-obatan tahun I
2.457.000,-

Ø  biaya pembayaran obat-obatan tahun II
4.536.000,-

Ø  biaya pembayaran obat-obatan tahun III
4.436.000,-

(Biaya obat-obatan adalah 1% dari biaya ransum)




3
Pendapatan


Ø  Penjualan telur tahun I
384.749.920,-

Ø  Penjualan telur tahun II
615.600.000,-

Ø  Penjualan telur tahun III
615.600.000,-

Ø  Penjualan itik culling 2 x 1.425 x Rp 2.000,-
  5.700.000,-


10.2.Rencana Pengembalian Modal dan Bunga
(Rupiah)
TAHUN
POKOK
BUNGA
JUMLAH ANGSURAN
SISA PINJAMAN
1
-
-
-
130.000.000,-
2
43.333.335,-
15.600.000,-
58.933.335,-
86.666.665,-
3
43.333.335,-
10.400.000,-
53,733.335,-
43.333.330,-
4
43.333.330,-
5.200.000,-
48,533,330,-
0,-

130.000.000,-
31.200.000,-
161.200.000,-



10.3. Gambaran Peluang Agribisnis

Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar internasional sangat besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada. Hal ini dapat dilihat bahwa baru dua negara Thailand dan Malaysia yang menjadi negara pengekspor terbesar. Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanji untuk dikembangkan secara intensif.


XI.          ORGANISASI USAHA
( Organisasi Usaha, Copy Indentitas Kelompok dan persyaratan lainnya, terlampir)


XII.         PENUTUP

Demikian Proposal Usaha ini kami ajukan sebagai dasar pertimbangan pihak perbankkan atau mitra modal. Atas perhatian, kepercayaan dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
           
GABUNGAN KELOMPOK TANI (GAPOKTAN) PETERNAK ITIK
BAROKAH MANDIRI

K E T U A


H. HAIDIR DAMAR ALAM
BENDAHARA


......................................
SEKRETARIS


.......................................


MENYETUJUI :

KEPALA DESA
...............................................


...............................................
PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN
WKPP ......................................




.................................................
NIP ..................................
KETUA KTNA DESA
...........................................


...........................................

MENGETAHUI :
KEPALA UPTD PENYULUHAN PERTANHUTBUN
KECAMATAN .................................................................



.................................................................................
NIP. ........................................................

Catatan:

Proposal lengkap ini disusun atas permintaan mitra petani yang akan menjalankan usaha budidaya itik petelur. Dengan dipublikasikan proposal ini semoga bermanfaat bagi mitra petani Indonesia yang juga berminat mengembangkan atau memulai usaha budidaya itik petelur atau sekedar bahan perbadingan bagi yang sudah menjalankan usaha budidaya itik. Ada banyak proposal yang Saya buat atas permitaan Mitra Petani dan Koperasi Pertanian di daerah Saya, diantaranya; Proposal Budidaya Ternak Sapi Potong, Budidaya Pisang Abaca, Budidaya Pepaya, Budidaya Jati Mas, Budidaya Ikan Patin, Rice Mill, Budidaya Terpadu Pangan-Ternak dll.

DAFTAR PUSTAKA
 Bambang Suharno, Ir. dan Khairul Amri. Beternak itik secara intensif.
  1. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1998
  2. Redaksi Trubus. Beternak Itik CV. 2000-INA. Penerbit Penebar Swadaya. Tahun 1999 
  3. Departemen Peternakan RI
  4. Dinas Pertanhutbun Kabupaten Karawang
  5. Bukuclick.blogspot.com/puskoptankarawang/pdib/
Produk Herbal dari berbagai negara
KOLEKSI LENGKAP TENTANG TANAMAN OBAT, KEGUNAAN DAN KHASIATNYA

PLUS GRATIS 970 (ebook-jurnal-artikel-panduan budidaya-Contoh Proposal dll.)
Klik selengkapnya di sini
     
     
     
     
Poskan Komentar

Follow Us