Selasa, 26 Maret 2013

Khasiat dan Budidaya Buah Pare



Buah Paria http://puskoptankarawang.blogspot.com

Tanaman paria ( Momordica Charantia L ) merupakan tanaman semusim yang cocok tumbuh di dataran rendah sampai menengah. Prospek pengembangan tanaman paria ini makin cerah karena daya beli masyarakat yang makin baik, terutama terhadap paria yang memiliki kualitas baik. Dan dengan sistem penanaman dengan menggunakan Mulsa Plastik Hitam Perak ( MPHP ) sangatlah menguntungkan, karena dapat mengurangi biaya tenaga kerja seperti penyiangan.

Agribisnis/Agroindustri “Budidaya tanaman paria  ( Momordica Charantia L ), memiliki prospek yang cerah.        “ Budidaya Paria Sistem MPHP “ memiliki beberapa aspek keunggulan diantaranya sebagai berikut   :
  1. Dalam aspek sosial, tanaman paria mempunyai nilai gizi yang sangat tinggi dan mempunyai banyak manfaatnya untuk masyarakat.
  2. Dalam aspek ekonomis, tanaman paria mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan karena rasanya yang pahit paria mempunyai ciri khas tertentu, sehingga paria tetap banyak di jual di pasar dan banyak diminati.
  3. Dalam aspek teknis, budidaya tanaman paria relatif mudah dalam membudidayakan nya dan membutuhkan waktu yang relatif singkat.
Budidaya Tanaman Paria
Rencana budidaya dapat  di jadwalkan/di usahakan tahapan dengan skedul sebagai berikut :

A.    Rencana Teknik Produksi
1.    Persiapan Bibit
-       Prasowing
-       Sowing
-       Pemeliharaan Bibit di Nursery
2.    Persiapan Lahan
-       Pembersihan Lahan
-       Pemupukan Dasar
-       Pemasangan MPHP
3.    Penanaman
4.    Pemeliharaan Tanaman
-       Penyiraman
-       Penyulaman
-       Pembumbunan
-       Pemasangan Ajir/Turus
-       Perambatan
-       Penyiangan
-       Perompesan
-       Polinasi (Penyerbukan Bunga Jantan dan Bunga Betina)
-       Pemupukan Susulan
-       Pengendalian Hama dan Penyakit

B.    Perencanaan Penanganan Panen
-       Pengumpulan Hasil
C.    Perencanaan Penanganan Pasca Panen
-       Pengangkutan
-       Penimbangan
-       Penyortiran

PENGENALAN TANAMAN PARIA

1).Taksonomi
Kedudukan tanaman paria dalam taksonomi tumbuhan adalah sebagai berikut:
Kingdom                      : Plantae
Divisio                         : Spermatophyta
Sub-divisio                  : Angiospermae
Class                           : Dicotyledoneae
Ordo                            : Cucurbitales
Famili                          : Cucurbitaceae
Genus                         : Momordica
Species                       : Momordica Charantia  L

2). Morfologi
Paria merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar atau merambat dengan perantara alat pemegang yang berbentuk spiral. Tanaman  paria memiliki batang yang berwarna hijau,dengan panjang bisa mencapai 1,5 m. Daun berbentuk jari tangan, dengan ujung yang meruncing. Kedudukan daun pada batang tanaman berselang-seling  antara satu daun dengan daun yang diatasnya.

Bunga paria berumah satu, karena bunga jantan dan bunga betina letaknya terpisah tetapi masih dalam pohon yang sama. Bunga paria berbentuk seperti terompet, dengan mahkota bunga yang berwarna kuning cerah. Hal yang membedakan bunga jantan dan bunga betina adalah bunga betina memilki bakal buah yang membengkak dibawah mahkota bunganya. Sedangkan bunga jantan tidak mempunyai bagian yang membengkak.

Buah paria tumbuh dari ketiak daun dengan posisi menggantung, bila tanaman dirambatkan pada turus bambu. Buah paria berbentuk bulat pendek hingga bulat panjang, dengan warna kulit buah hijau keputihan hingga hijau gelap, ada yang mulus dan ada yang berduri. Apabila buah paria dibelah, maka akan tampak biji paria yang tersusun teratur pada bagian tengah buahnya. Biji paria berbentuk pipih berwarna coklat hingga kekuningan. Pada permukaan  bijinya terdapat lender, sehingga bila akan digunakan sebagai benih harus dicuci lalu dikeringkan terlebih dahulu.

Karakter sex
Tanaman paria pada umunya bunga jantan dan bunga betina terpisah tetapi masih dalam satu pohon, ada yang mempunyai bunga hemaprodit, yaitu benang sari dan putik dalam satu rumah/bunga, ada yang hanya mempunyai  bunga jantan saja dan ada yang mempunyai bunga bertina saja.

Karakter sex pada tanaman paria dapat dimodifikasi sengan menggunakan zat kimia, misalnya tanaman yang hanya mempunyai bunga betina saja dapat diubah dengan menggunakan larutan tio sulfat sehingga dapat menghasilkan bunga jantan. Karena tanaman yang hanya mempunyai bunga betina saja tidak dapat melakukan penyerbukan.

Khasiat Buah Pare/Paria
Buah pare ini telah lama dipakai sebagai obat di Cina sejak tahun 1578. Selain secara tradisional sebagai tonikum, obat batuk, obat antimalaria, penambah nafsu makan dan penyembuh luka, ratusan riset telah dilakukan diberbagai negara untuk mengetahui efek buah pahit ini terhadap kadar gula darah. Hasil riset yang telah dilakukan di berbagai negara tersebut ternyata mempertegas khasiat buah pare sebagai antidiabetes.

Selain obat diabetes, buah pare juga memiliki banyak manfaat atau khasiat bagi kesehatan, antara lain;

1.    Dapat merangsang nafsu makan
2.    Dapat menyembuhkan penyakit kuning
3.    Memperlancar pencernaan
4.    Obat malaria
5.    Memperlambat virus HIV-Aids
6.    Dengan kandungan vitamin C 120ml/100 gram
7.    Pare dapat berfungsi juga menjaga kecantikan kulit
8.    Melawan sel kanker
9.    Mencegah kanker payudara

Selain buah pare, daun pare juga mempunyai manfaat yang tidak kalah dengan buahnya:

1.    Dapat menyembuhkan mencret pada bayi
2.    Membersihkan darah bagi wanita yang baru melahirkan
3.    Dapat menurunkan panas
4.    Dapat mengeluarkan cacing kremi
5.    Dapat menyembuhkan batuk

Catatan: Meskipun pare memiliki khasiat bagi kesehatan, sebaiknya jangan mengkonsumsi pare secara berlebihan, terutama bagi wanita hamil. Menurut penelitian pada sebuah percobaan terhadap tikus hamil, pemberian jus pare dapat menimbulkan keguguran. Sebaiknya konsultasikan hal tersebut kepada dokter Anda. Penelitian lainnya menyebutkan, tanaman pare dapat membuat turunnya jumlah sperma sehingga dapat emnghambat reproduksi. Dengan kata lain pare dapat dikatakan menjadi obat KB alami bagi pria karena mengandung zat antifertilitas.
  

B. Syarat Tumbuh
Tanaman paria  ( Momordica Charantia L ), akan tumbuh dengan baik dengan syarat tumbuh sebagai berikut :
a.    Syarat Iklim 
Daerah                        : Tropis dan Subtropis 
Ketinggian tempat       : 0 - 500 m dpl
Suhu                           : 18 - 24˚C
Curah hujan                : 60 - 200 mm/bulan
Sinar matahari            : 10 - 12 jam/hari

b.    Syarat tanah  
1.    Paria mempunyai daya adaptasi tumbuh  yang cukup tinggi
2.    Dapat menyesuiakan diri terhadap iklim yang berlainan baik suhu dan curah hujan yang tinggi
3.    Dapat hijau sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim
4.    Membutuhkan drainase tanah yang cukup baik
5.    Membutuhkan tanah yang gembur dan banyak mengandung bahan organik, memerlukan PH antara 5-6

BUDIDAYA TANAMAN PARIA DENGAN SISTEM MPHP

Keuntungan MPHP, diantaranya sebagai berikut :
1.    Pemberian pupuk dapat dilakukan sekaligus sebelum tanam
2.    Menekan pertumbuhan gulma
3.    Mengintensifkan pemeliharaan
4.    Memantulkan sinar matahari yang diserap klorofil
5.    Mengurangi erosi bedengan akibat air hujan

Teknik Budidaya Tanaman Paria dengan Sistem MPHP

1.)  Penyiapan Lahan
Dalam budidaya tanaman paria dengan sistem MPHP, penyiapan lahan harus dilakukan terlebih dahulu kemudian disusul dengan penyiapan benih dan pembibitan. Hal ini di maksudkan agar tanah sebagai media tanam sudah benar-benar matang dan layak ditanami, sebaiknya apabila pembibitan dilakukan terlebih dahulu maka penyiapan lahan akan terburu-buru, sehingga tanah belum matang benar dan bibit sudah terlanjur  tua.

Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam penyiapan lahan budidaya paria dengan sistem MPHP adalah pemilihan lahan yang memenuhi persyaratan dan tahapan cara pengelolahan tanah.

Adapun persyaratan lahan untuk budidaya paria adalah :
  1. Lahan bukan bekas tanaman yang sejenis atau sefamili, seperti mentimun, semangka, kacang panjang, dan kentang, guna menghindari resiko serangan penyakit.
  2. Tempat terbuka agar penyinaran sinar matahari secara penuh.
  3. Lahan yang paling baik adalah tanah sawah bekas tanaman padi, agar tidak perlu membajak cukup berat.
  4. Lahan tegalan ( tanah kering ) dapat digunakan asalkan cukup tersedia air.
 Langkah – langkah dalam persiapan lahan sebagai berikut :
1.    Lahan yang akan dipakai tempat penanaman dibersihkan dari segala macam gulma agar tidak menjadi sarang hama penyakit.
2.    Melakukan pembajakan dan kemudian merotari tanah yang sudah dibajak dengan tujuan untuk menggemburkan, memperbaiki draenase dan aerase tanah dan menghilangkan OPT ( Organisme Pengganggu Tanaman ) yang bersembunyi didalam tanah. Dengan kedalaman tanah 30-40 cm kemudian tanah dibiarkan selama 7-14 hari.
3.    Membuat bedengan dengan ukuran lebar 100 cm dengan ketinggian bedengan 40 cm pada musim kemarau dan pada musim hujan 50 cm, jarak bedengan/parit 40 cm, jarak tanam 60 cmdan panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan.
4.    Pada saat lahan 70% bedengan dipupuk dengan pupuk kandang ( kotoran sapi ) yang telah matang dan bokasi sebanyak 100 kg, kemudian diaduk dengan tanah bedengan, setelah merata tanah dibiarkan selama 7 hari.

2.) Pemasangan MPHP
  Setelah melakukan pemupukan dasar maka segera dilakukan pemasangan MPHP, waktu yang tepat untuk pemasangan MPHP sekitar pukul 11.00 - 15.00 WIB agar MPHP memuai dan menutup rapat tanah, pemasangan MPHP dilakukan oleh 2 orang. Caranya kedua ujung MPHP ditarik sesuai panjang bedengan akan tetapi panjang MPHP dengan panjang bedengan jangan sama panjang pada saat pemotongan panjang MPHP harus dikurangi 0,5-1 m dari bambu yang ditancapkan di sisi kanan dan sisi kiri bedengan dengan jarak 60 cm.

3.) Persiapan benih dan Pembibitan
Bersamaan dengan terbentuknya bedengan kasar dilakukan penyiapan benih dan pembibitan terlebih dahulu, karena dalam budidaya tanaman paria membutuhkan peranan penting untuk menghasilakan benih berkualitas tinggi, maka harus di lakukan persemaian secara baik, agar memperoleh bibit yang normal dan resisten terhadap hama dan penyakit pada saat persemaian, ada satu hal yang perlu di perhatikan yaitu dalam pengaturan cahaya, karena bibit yang kurang mendapatkan cahaya akan menunjukan pertumbuhan yang memanjang dan pucat (etiolasi).

Benih
Tanaman paria pada umumnya di perbanyak secara generatif, berikut ini adalah ciri-ciri benih yang berkualitas baik, yaitu :
1.  benih tidak cacat
2.  memiliki daya kecambah ≥ 80%
3.  bernas
4.  kulit benih mengkilap
5.  benih harus berasal dari tanaman yang sehat dan subur, yang kemudian di ekstraksi dan di keringkan hingga kadar air ± 12%.

Perlakuan Benih Sebelum Semai (Prasowing )
Benih yang akan disemai tidak selalu siap untuk disemai, karena benih mengalami masa dormansi yaitu benih tidak dapat berkecambah walaupun sebenarnya hidup. Masa dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari (terutama benih yang baru diekstrak dan dikeringkan), semusim, bahkan sampai beberapa tahun.

Masa dormansi pada benih paria dapat dilakukan dengan cara direndam dalam air yang dicampur dengan fungisida (benlate) dengan dosis 1 gr/liter air dan KNO3 dengan dosis 1-2 gr/liter air selama 30-45 menit. Setelah direndam, benih ditiriskan dan dimasukkan kedalam petridis yang sudah diberi alas dan ditutup dengan kertas merang, kemudian di simpan kedalam ruangan yang lembab dan gelap selama 1-2 hari.

Persemaian
Benih paria dapat di tanam langsung, tetapi akan lebih baik apabila di semai terlebih dahulu pada lahan persemaian. Hal ini di maksud untuk memudahkan dalam pengawasan, sehingga dapat di  peroleh pertumbuhan bibit yang seragam dan untuk menghemat benih. Pada tahap awal, benih yang disemai diletakkan pada ruangan yang ternaungi. Setelah keluar daun dan berusia ± 7-9 hari, kemudian dipindahkan pada lahan.

Proses persemaian ada beberapa tahap,  di antaranya yaitu :
1.    Mempersiapkan benih yang akan disemai dan memberikan pelabelan untuk setiap masing-masing kode agar tidak terjadi percampuran.
2.    Mempersiapkan media semai, yaitu tanah, pupuk kandang, kokopit(serbuk sabut kelapa), dan arang sekam dengan perbandingan 2:1:1:1 yang kemudian dimasukkan ke dalam tray.
3.    Benih yang telah disiapkan kemudian ditaburkan pada permukaan tray, dimana dalam satu lubang cukup dengan satu biji. Kemudian ditutup dengan media semai lagi dan disiram.
4.    Setelah keluar daun dan berumur ± 7-9 hari, bibit siap di transplanting.

Pemeliharaan di dalam nursery
Bibit selama dalam nursery perlu pemeliharaan agar bibit dapat tumbuh secara optimal dan mencegah adanya serangan hama dan penyakit. Pemeliharaan yang dilakukan di dalam nursery adalah sebagai berikut :
1.    Penyiraman
Penyiraman didalam nursery dilakukan 2-3X sehari yang dilakukan setiap hari. Penyiraman bertujuan agar mempercepat pembentukan akar, dengan keadaan tanah yang basah, maka perakaran akan lebih mudah menembus dan kebutuhan air untuk proses pertumbuhan akan tercukupi.
2.    Penyemprotan pestisida dan pupuk.
Penyemprotan pestisida bertujuan untuk mencegah adannya serangan hama dan penyakit. Penyemprotan pestisida biasanya dicampur dengan pupuk yang bertujuan untuk memacu pertumbuhan pucuk. Penyemprotan dilakukan 2x dalam seminggu.

4). Penanaman
Waktu tanam yang paling baik adalah sore hari pada awal musim kemarau dan bibit paria yang sudah berumur  7-9 hari atau berdaun 2-4 helai, karena walaupun pada musim hujan masih dapat berproduksi dengan baik, namun pemeliharaannya harus optimal.  Sehari sebelum tanam bedengan yang telah ditutup MPHP harus terlebih dahulu dibuat lubang tanam, dengan jarak 60 cm antara tanaman dalam satu bedengan, karena penanaman paria yang penulis lakukan single row atau atu baris tanaman dalam satu bedengan.

Cara penanaman bibit paria adalah sebagai berikut:
1.    Bibit yang sudah siap untuk di tanam kemudian di bawa kelahan yang siap di tanam.
2.    Penanaman dilakukan dengan cara mula-mula bibit di cabut dari trey dengan menggunakan tiga jari pada pangkalnya
3.    Tekan bagian bawah tray hingga tanah pada trey terikut supaya  tidak merusak bagian akar dengan cara hati-hati.
4.    Kemudian bibit dimasukan sambil ditimbun dengan tanah, sehingga dekat pangkal batangnya cukup padat.
5.    Bibit yang sudah ditanam langsung disiram agar terhindar dari kelayuan (stagnasi).

Perlakuan setelah tanam, ada 3 hal yaitu sebagai berikut :
1)    Penyiraman
Penyiraman biasanya dilakukan dengan cara di kocor menggunakan selang pada saat setelah tanam, agar terhindar dari kelayuan (stagnasi).
2)    Pemberian Furadan 3 GR
Furadan di berikan pada saat tanaman sudah di lakukan penyiraman dengan dosis 1-2 gr/tanaman, bertujuan untuk menjaga tanaman dari serangan nematoda dan ulat tanah.
3)    Drancing
Merupakan kegiatan yang dilakukan 1 hari setelah tanam di lahan, dengan memberikan pupuk daun yaitu Growmore N dengan dosis 1 gram/liter air  dan pestisida seperti Previcur N dengan dosis gram/liter air, di berikan dengan cara di kocor.

5).  Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan selama budidaya dari awal penanaman sampai akhir tanaman tersebut berproduksi.

Penyiraman
Untuk mendapatkan kualitas dan produksi yang baik, penyedian air yang cukup merupakan syarat yang paling penting yang harus dilakukan terutama pada periode kritis. Kemudian dalam budidaya tanaman paria, penyiraman perlu dilakukan untuk pengangkutan unsur hara yang ada didalam tanah lalu diangkat ke  jaringan tanaman, penyiraman tanaman paria dilakukan 3 kali sehari, tetapi lihat kondisi tanah, tanaman, dan cuaca. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan teknolgi modern yaitu menggunakan selang “sumisansui”.

Pembumbunan
Pembumbunan adalah kegiatan pemeliharaan tanaman yang dilakukan untuk memperkuat sistem perakaran/ menutup akar yang terlihat dan memperkokoh pertumbuhan batang. Waktu pembumbunan yaitu dilakukan pada saat tanaman berumur 7 HST.

Pemasangan dan Pengikatan turus
Tanaman paria umumnya menjalar atau merambat dan berbuah banyak sehingga untuk menompang pertumbuhannya agar kuat dan kokoh diperlukan pemasangan ajir. Pemasangan ajir dilakukan setelah tanaman berusia 7 HST, ajir dipasang tegak dan jumlah ajir tiap tanaman sebanyak 3 ajir yang di pasang berbentuk segitiga, antara ketiga ajir tersebut disatukan lalu diikat oleh tali majun dan dihubungkan antara ketiga ajir  tersebut  secara  berjajar tepat pada ketinggian antara 1,2-1,5 M dari permukaan tanah, dan di pasangkan satu turus untuk palang atas kemudian lakukan pengikatan kembali dengan menggunakan tali majun.

Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tanaman yang berumur 7 HST, tujuan dari penyulaman yaitu  untuk mempertahankan populasi, menggantikan tanaman yang mati dan layu ataupun rusak. Cara penyulaman yaitu mengganti tanaman yang mati dengan bibit tanaman  yang baru dan dipilih yang baik pertumbuhannya dengan unsur yang sama.

Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila ada gulma yang tumbuh disekitar lubang tanam, hal ini dilakukan untuk menghindari persaingan unsur  hara dan persaingan sinar matahari. Pada budidaya tanama paria ini dengan menggunakan system MPHP, maka penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma yang tumbuh disekitar lubang tanam dengan tangan atau alat bantu.

Perambatan
Tanaman paria selain dari tanaman semusim juga mempunyai sifat merambat atau menjalar, maka perambatan paria dibantu oleh tenaga manusia perambatan mulai dilakukan setelah tanaman berumur 21 hari setelah tanam dan perambatan paria dilakukan 2 kali dalam seminggu.Tujuan dari perambatan yaitu untuk mempermudah dalam pemeliharaan. Kemudian cara perambatan tanaman paria yaitu batang utama dirambatkan pada turus, lalu diikat dengan menggunakan tali rafia, dengn menggunakan sistem “angka delapan” . hal yang harus di perhatikan pada saat pengikatan sulur tanaman paria yaitu jangan terlalu kencang, karena di khawatirkan terjadi pembengkakan pada tanaman.

Pemupukan susulan
Pemupukan Susulan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersamaan pada saat pemeliharaan tanaman. Tujuan dari pemupukan susulan adalah untuk memenuihi kebutuhan unsur hara di dalam tanah yang di butuhkan tanaman. Pemupukan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :`

Pemupukan sistem semprot
Pemupukan yang menggunakan mesin power sprayer yang di campur dengan pestisida dan pupuk, biasanya menggunakan pupuk daun yaitu Growmore N yang biasa di berikan dengan cara di semprotkan yang di campurkan dengan air yang bermanfaat untuk memacu pertumbuhan.

Pemupukan sistem kocor
Pemupukan ini dilakukan dengan cara melarutkan pupuk kedalam air, selanjutnya di siramkan pada tanaman dengan dosis yang dianjurkan. Pupuk yang di kocor biasanya lebih dari satu jenis, yang bertjuan agar menghemat pemakaian  tenaga kerja.

Tabel 2. Aplikasi Pupuk Berdasarkan Pengamatan di Lapangan
Waktu Pemupukan
Jenis Pupuk
Dosis Pupuk
4 hari setelah tanam
NPK 16.16.16
2 gr/tanaman
21 hari setelah tanam
NPK 16.16.16
5 gr/tanaman
4 minggu setelah tanam
NPK 16.16.16
5 gr/tanaman
5 minggu setelah tanam
NPK 16.16.16
10 gr/tanaman
6 minggu setelah tanam
NPK 16.16.16
10 gr/tanaman
7 minggu setelah tanam
NPK 16.16.16
10 gr/tanaman
8 minggu setelah tanam
NPK 16.16.16
10 gr/tanaman
9 minggu setelah tanam
NPK 16.16.16
10   r/tanaman
 
1.    Perompesan
Perompesan adalah pembuangan batang-batang yang tidak produktif atau daun-daun yang sudah tua, pemangkasan ini juga untuk menghilangkan serangan hama dan penyakit yang menyerang daun atau batang dan menghindari penyebaran hama dan penyakit  terhadap  daun dan batang yang lain.

2.    Polinasi ( penyerbukan bunga jantan dan betiina )
Polinasi adalah menyerbukan benang sari ( jantan ) ke kepala putik ( betina ) untuk menghasilkan buah yang lebih sempurna.
Polinasi terbagi dua yaitu polinasi alami dan polinasi buatan :

1). Polinasi Alami
Polinasi alami yaitu proses bertemunya serbuk sari ( jantan ) dengan kepala putik ( betina ) tanpa bantuan manusia atau terjadi secara alami, misalnya : penyerbukan oleh angin, serangga, air, dll.
2). Polinasi Buatan
Polinasi buatan yaitu proses bertemunya serbuk sari (  jantan ) dengan kepala putik ( betina ) dengan bantuan manusia.
Polinasi buatan ada 3 macam diantaranya, yaitu :
  • ELFING, yaitu polinasi dimana bunga jantan dan betina dari satu tanaman yang sama.
  • SEBBING, yaitu polinasi dimana bunga jantan dan betina dari tanaman tetangga tetapi satu varietas.
  • CROSSING, yaitu polinasi dimana bunga jantan dan betina berasal dari dua varietas atau beda jenis.

3.     Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Serangan hama dan penyakit seringkali menjadi factor pembatasan tehdap produksi suatu tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukn usaha perawatan dan perlindungan secara tertur agar tanaman tetap sehat.
Pada tanaman paria ada beberapa jenis hama yang menyerang, antara lain:

a. White fly (Trialeurodes vaporariorum)
Ciri – ciri : Serangga dewasa bersayap putih dengan tubuh kuning berukuran sekitar 1 mm,  tubuh tertutup bahan seperti tepung memiliki sayap melebar dengan bagian ujung sayap melebar. Serangga ini aktif dan bersembunyi dibawah permukaan daun.

Gejala serangan : mulutnya yang menusuk-menghisap menyebabkan bercak klorotik dipermukaan dan menyebabkan luka-luka kecil yang mengeluarkan cairan gula sehingga ditumbuhi jamur seperti jelaga, White fly merupakan vector Gemini virus.

Pengendalian : Sanitasi lahan dari gulma maupun tanaman sekunder yang dapat menjadi inang alternatif. seperti gulma,babadotan, atau kembag sepatu . Aplikasi insektisida dengan menggunakan obat berbahan aktif tramektosan, metidation, petmetrin, dan abamektin.

b.  Ulat jengkal (crysodeixis calcites)
Ciri-ciri :
- Ulat berwarna hijau
- Memiliki ruas-ruas disepanjang tubuhnya
- Terdapat garis membujur berwarna putih kekuningan
- Panjang ulat ini mencapai 4 cm

Gejala serangan : Daun-daun berlubang bekas gigitan ulat dan sering terdapat kotoran ulat berwarna hijau tua,basah dan menutupi permukaan daun. Ulat ini juga menggerogoti kulit buah sehingga permukaan buah menjadi rusak.
Pengendalian : Mengumpulkan ulatnya kemudian di musnahkan dan Menggunakan insektisida racun kontak dan lansung seperti rampage berbahan aktif  klofenafir.

Penyakit tanaman paria yang biasa menyerang ada beberapa macam yaitu:

a.    Downy mildew ( Pseudeperonouspora cubensis )
Penyebab : Pseudoperonospora cubensis
Gejala serangan : berupa bercak-bercak kekuning-kuningan pada permukaan daun bagian atas yang di batasi tulang-tulang daun. Bercak-bercak pada daun tersebut berawal dari daun-daun tua pada bagian bawah tanaman dan merambat keatas. Pada pagi hari atau pada saat kelembaban tinggi, dibagian permukaanbawah daun akan terlihat massa jamur berwarna hitam. Kondisi yang mendukung perkembangan jamur adalah kelembaban tinggi dan suhu sejuk ( 18˚- 22˚C ) atau hujan yang diselingi panas.
Pengendalian : sanitasi lahan dari gulma, melakukan rotasi tanaman dan aplikasi yang berbahan aktif propineb dan tridemorf.
b.    Gemini virus
Penyebab : white fly
Gejala serangan : daun berwarna kekuning-kuningan kemudian dilanjutkan dengan mengerutnya daun ( Daun Menjadi Kerdil ), penyebab dari virus ini adalah adanya white fly yang merupakan vektor dari virus ini. Tanaman yang terserang akan kerdil sehingga tidak akan berproduksi dengan baik atau sama sekali.
 Pengendalian : dengan mencegah terjadinya serangan white fly dan secara kultur teknis dengan langsung mencabut tanaman yang terserang penyakit.

1.1  Aplikasi fungisida dan Insektisida
Untuk menanggulangi adanya serangan hama dan penyakit diperlukan penanggulangan secara kimiawi yaitu dengan menggunakan insektisida dan fungisida, Aplikasi menggunakan hand sprayer . Adapun insektisida dan fungisida yang biasa di gunakan adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Aplikasi Insektida yang digunakan
NO
INSECT
INSEKTISIDA
BAHAN AKTIF
DOSIS/LT
APLIKASI
1.

  2.
White Fly

Ulat Jengkal
Rampage
Agrimec
Rampage
Klofenafir
Abamectin
Klofenafir
50 cc
18 gr/lt
50 cc
Pagi
Pagi
Pagi / Sore

Tabel 4. Aplikasi fungisida yang biasa digunakan
NO.
FUNGI
FUNGISIDA
BAHAN AKTIF
DOSIS/LT
APLIKASI
1.
2.
Downy Mildew
Gemini virus
Ridomil gold
Teknis non kimiawi
Mankozeb 64%
Teknis non kimawi
2 Gr
Teknis non kimiawi
Pagi
Pagi / Sore
 


2. Penanganan Panen Dan Pasca Panen
         1. Panen
Tanaman paria mulai biasanya dipanen pada umur 44-55 hari setelah tanam. panen dapat dilakukan dengan interval 3-5 hari sekali dan biasanya berlangsung 12 kali. Untuk tanaman yang diambil bijinya biasanya dipanen pada umur 60-70 hari setelah tanam.
Cara panen buah paria yaitu dengan memilih buah yang berukuran maksimal.

Buah paria mampu mempertahankan kesegarannya hingga 10-14 hari, bila disimpan pada suhu 7,2˚-10˚C, dengan kelembaban 90%-95% dan kadar air 96,1.
 2.Pasca Panen
Kegiatan pasca panen buah paria meliputu:
·         Buah diangkut dari kebun keruang ektraksi
·         Menimbang buah dan mencatat hasil deskripsi buah
·         Menyortir buah
·         Buah paria siap diambil oleh pembeli
 3.  Pemasaran hasil
Hasil panen paria dilakukan dengan cara dijual pengumpul, dari pengumpul disalurkan kepasar dan dari pasar  barulah sampai ke konsumen

Analisa Usaha Dan Tataniaga

Analisa Usaha Tani
Berdasarkan observasi lapanagn dengan objek luas lahan  2500 m². Budidaya Tanaman Paria cukup menguntungkan. Analisa usahatani meliputi sebagai berikut :
I.      Input
Input adalah nilai-nilai korbanan ekonomis yang tidak dapat dihindari atau diperlukan dalam menghasilkan suatu produk.

Biaya Variabel
Biaya Variabel adalah biaya yang besar kecilnya tergantung kepada besarnya volume produksi. Adapun biaya variabel pada usaha budidaya paria meliputi :

-          Sarana produksi                                                    = Rp 3.329.150
-          Tenaga kerja tidak tetap                                        = Rp 3.066.000
-          Biaya bunga modal pertanaman                            = Rp    383.709+

Jumlah Biaya Variabel Total ( BVT )                      = Rp 6.778.859

Biaya Tetap
Biaya Tetap adalah biaya besar kecilnya tidak tergantung oleh volume produksi.

Adapun biaya tetap pada usaha budidaya paria meliputi :

-          Biaya Sewa Lahan Milik Sendiri                                = Rp 1.500.000
-          Biaya Alat                                                                 = Rp 2.798.446,65
-          Biaya Tenaga Kerja Tetap                                        = Rp 3.600.000+

Jumlah Biaya Tetap Total ( BTT )                             = Rp7.898.446,65

Otput
Output adalah penerimaan dari seluruh hasil yang diperoleh dari suatu usaha. Penerimaan merupakan perkalian dari jumlah total hasil panen dikali harga jual rata-rata.

Adapun penerimaan total dari usaha budidaya paria adalah :
1.    Panen ke-1        :  347,19  kg x Rp 2000/kg              = Rp    694.380
2.    Panen ke-2        :  115,73  kg x Rp 2000/kg              = Rp    231.460
3.    Panen ke-3        :  578,66  kg x Rp 2000/kg              = Rp 1.157.320
4.    Panen ke-4        :  578,66  kg x Rp 2000/kg              = Rp 1.157.320
5.    Panen ke-5        : 1041,6   kg x Rp 2000/kg              = Rp 2.083.200
6.    Panen ke-6        : 1273,06 kg x Rp 2000/kg              = Rp 2.546.120
7.    Panen ke-7        :  462, 93 kg x Rp 2000/kg              = Rp    925.860
8.    Panen ke-8        : 1736      kg x Rp 2000/kg              = Rp 3.472.000
9.    Panen ke-9        : 1273,06 kg x Rp 2000/kg              = Rp 2.546.120
10.  Panen ke-10      :   347,19 kg x Rp 2000/kg             = Rp    694.380
11.  Panen ke-11      : 1041,6   kg x Rp 2000/kg             = Rp 2.083.200
12.  Panen ke-12      :   694,39 kg x Rp 2000/kg            = Rp 1.388.780
                         9490,07  kg                                    =Rp18.980.140

Pendapatan Pengelola
Pendapatan pengelola atau keuntungan adalah nilai seluruh penerimaan total dikurangi seluruh biaya produksi total.

Pendapatan Pengelola = Output – Input
                          = Rp 18.980.140 – Rp 14.667.305,7
                          = Rp 4.312.834,3

Pendapatan Keluarga
·         Pendapatan pengelola                        = Rp 4.312 834,3
·         Bunga modal alat pertanaman           = Rp 1.500.000
·         Biaya sewa lahan milik sendiri            = Rp    383.709+
Jumlah                                                     = Rp. 6.196.543,3

O/I Ratio

O/I Ratio adalah perbandingan antara output (penerimaan) dan input (biaya). Dengan ratio ini kita akan dapat mengetahui dengan biaya yang dikeluarkan, maka kita akan mengetahui berapa penerimaan yang akan diterima. Adapun O/I Ratio yang didapat dalam usaha ini adalah 1,2 ( satu koma dua ). Arinya setiap mengeluarkan Rp 1,- akan menghasilkan Rp 1,2.

Break Event Point (BEP)
a). BEP Produk : satuannya adalah kilogram (kg).
Untuk mengetahui titik impas produksi (kg) dari seluruh jumlah produksi (kg) yang dihasilkan dari suatu agribisnis.
BEP Produk : Rp 6.141,87/kg
b). BEP Nilai : satuannya rupiah (Rp)
Untuk mengetahui titik impas nilai hasil (Rp) dari seluruh jumlah nilai (Rp) yang dihasilkan dari suatu agribisnis.
BEP Nilai : Rp 12.283.742,8 dibulatkan menjadi Rp 12.283.743

Analisa Tataniaga
Dari hasil panen paria dilakukan dengan cara dijual ke pedagang (pengumpul), selanjutnya dipasarkan dan sampai ke konsumen. Adapun rantai tata niaga pemasaran hasil paria sebagai berikut :

Produsen --- Pengumpul --- Pasar --- Konsumen


MASALAH DAN PEMECAHAN

Masalah
Masalah yang sering dihadapi budidaya tanaman paria sistem MPHP yaitu adanya Penyakit Gemini virus, Dalam penyerangannya penyakit ini dapat memperlambat pertumbuhan hingga tanaman menjadi kerdil.

Pemecahan Masalah
Usaha pengendalian penyakit Gemini virus yaitu dengan sanitasi lahan dengan gulma, perbaikan drainase, melakukan rotasi tanaman, memusnahkan daun-daun yang terserang dalam tingkat awal menggunakan teknis non kimiawi menggunakan alat bantu manual.

USAHA PROSPEK PENGEMBANGAN

Prospek budidaya paria prospek hasilnya semakin hari semakin cerah, dilihat dari harga jualnya cukup terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat selain rasa paria yang enak, paria juga mengandung nilai gizi yang komposisinya lengkap.

Selain untuk dikonsumsi secara segar ( Lalapan ) paria juga digunakan sebagai penambah nafsu makan. Paria dipercaya sebagai obat pembersih darah dari zat-zat negatif yang tergantung didalam tubuh.

Tabel 5. Kandungan gizi paria dalam 100 gram bahan mentah


Kandungan gizi
                       Nilai satuan
Kalori
Protein
Lemak
Hidrat Arang
Vitamin A
Vitamin B
Vitamin C
9 gram
1 gram
0,1
1 gram
10-40 gram
20 gram
20-100 gram
Sumber. MD. Soetomo soedirdjoatmodjo. 1986

Kesimpulan
Berdasarkan observasi pengalaman di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
5.    Teknis
Diantara family cucurbitaceae tanaman paria yang cukup mudah dibudidayakan, karena tanaman ini adalah tanaman yang bisa ditanam didataran rendah sampai sedang.
6.    Ekonomis                   
Dilihat dari analisa, tanaman paria cukup menguntungkan dijadikan usaha, karena tanaman paria memiliki prospek yang cerah dipasaran.
7.    Sosial                         
Dapat menambah lapangan kerja sehingga bisa mengurangi tingkat pengangguran, dan juga sebagai sumber gizi makanan bagi masyarakat.

DAPTAR PUSTAKA
Nazarudin. 1994. Sayuran dataran rendah. Jakarta : Penebar Swadaya

Soerdirdjoatmojo, Soetomo . 1986 . Bertanam Sayuran Buah . Jakarta : BP Karya Abadi

Sunaryo, Hendr.  1990. Produksi Sayuran dan Panen :Sinar Baru Agresindo


Poskan Komentar